Lompat ke konten
← Semua edisi
Thinking Edisi #2 · 6 menit

Ship dulu, Sempurnakan nanti!

Belakangan saya mendengarkan percakapan Jason Fried dan David Heinemeier Hansson (DHH) dari 37signals tentang ambisi, membangun perusahaan, dan bagaimana mereka melihat ketidakpastian dalam bisnis.

Belakangan saya mendengarkan percakapan Jason Fried dan David Heinemeier Hansson (DHH) dari 37signals tentang ambisi, membangun perusahaan, dan bagaimana mereka melihat ketidakpastian dalam bisnis.

Ada satu gagasan yang terus terngiang di kepala saya:

Ship.

Buat sesuatu.

Kirim.

Biarkan orang menggunakannya.

Lihat apa yang terjadi.

Lalu belajar dari kenyataan.

Bukan dari asumsi.

Dan semakin saya pikirkan, semakin saya merasa bahwa salah satu masalah terbesar ketika membangun sesuatu bukanlah kekurangan ide.

Melainkan terlalu lama menunggu kepastian.


Kita terlalu ingin yakin sebelum mulai

Saya sering melihat pola yang sama, termasuk pada diri sendiri.

Kita punya ide.

Lalu mulai melakukan riset.

Cari market.

Analisis kompetitor.

Bikin business model.

Hitung TAM.

Bikin roadmap.

Mencari nama.

Menyempurnakan positioning.

Membuat landing page.

Lalu revisi lagi.

Sampai akhirnya beberapa bulan berlalu dan produk tersebut belum pernah benar-benar digunakan oleh siapa pun.

Padahal ada satu hal yang tidak bisa diberikan oleh semua analisis itu:

informasi dari dunia nyata.

Kita bisa berpikir selama mungkin tentang apakah sebuah ide akan berhasil.

Tetapi pada akhirnya, kita perlu membuat sesuatu menjadi nyata untuk mengetahuinya.

Itulah kenapa saya semakin menyukai konsep ship.

Bukan karena harus selalu cepat.

Tetapi karena execution menghasilkan informasi.


Ship bukan berarti asal jadi

Ini bagian yang menurut saya penting.

Ship ≠ asal jadi.

Ada perbedaan antara bergerak cepat dan bekerja sembarangan.

Kita tetap perlu peduli terhadap kualitas.

Tetapi kualitas juga harus proporsional dengan apa yang sedang kita bangun.

Kadang kita menghabiskan waktu dua minggu untuk memperbaiki sesuatu yang sebenarnya belum terbukti penting.

Padahal mungkin versi sederhananya bisa dibuat dalam dua hari.

Lalu diberikan kepada pengguna.

Kalau mereka tidak peduli, kita mendapatkan informasi.

Kalau mereka peduli, kita mendapatkan alasan untuk memperbaikinya.

Karena itu saya suka kombinasi:

Quality + Urgency + Proportionality.

Buat sesuatu yang cukup baik.

Buat dengan serius.

Tetapi jangan memberikan effort yang tidak sebanding dengan tingkat kepastian yang kita miliki.


Ide bisnis yang bagus sering kali tidak terlihat bagus di awal

Ini mungkin bagian yang paling menarik.

Kita sering membayangkan bahwa ide bisnis yang bagus seharusnya terlihat bagus sejak awal.

Kalau idenya bagus, harusnya masuk akal.

Kalau market-nya besar, harusnya terlihat jelas.

Kalau peluangnya besar, harusnya mudah dijelaskan dalam sebuah spreadsheet.

Tapi kenyataannya tidak selalu begitu.

Ada banyak hal yang pada awalnya terlihat kecil, aneh, atau bahkan tidak masuk akal.

Dan memang sulit menganalisis sesuatu yang belum pernah ada.

Bagaimana kita menghitung ukuran pasar untuk sesuatu yang belum terbentuk?

Bagaimana kita melakukan cost-benefit analysis terhadap perilaku konsumen yang belum kita ketahui?

Bagaimana kita bisa yakin bahwa orang akan menginginkan sesuatu yang belum pernah mereka gunakan?

Di titik tertentu, analisis punya batas.

Bukan berarti analisis tidak penting.

Tetapi analisis bukan realitas.


Kadang cara terbaik untuk mengetahui apakah sebuah ide bagus adalah membuatnya

Ini terdengar sederhana.

Tapi justru karena sederhana, kita sering melewatkannya.

Daripada bertanya:

“Apakah ini ide bisnis yang bagus?”

Mungkin pertanyaan yang lebih berguna adalah:

“Apa versi terkecil dari ide ini yang bisa saya buat minggu ini?”

Lalu buat.

Ship.

Lihat apa yang terjadi.

Saya pikir ini juga alasan kenapa build-in-public menarik.

Bukan karena kita harus membagikan semuanya.

Tetapi karena proses membangun memaksa kita berhadapan dengan kenyataan.

Bukan hanya dengan pikiran sendiri.


Buat lebih banyak eksperimen

Ada hal lain dari cara berpikir ini yang saya suka:

kita tidak harus menemukan satu ide sempurna.

Kita bisa membuat lebih banyak percobaan.

Bukan berarti membangun 20 bisnis sekaligus.

Tetapi memberikan diri kita cukup ruang untuk mencoba.

Karena kreativitas sering kali muncul dari proses membuat sesuatu.

Satu eksperimen menghasilkan informasi.

Informasi menghasilkan insight.

Insight menghasilkan ide berikutnya.

Lalu kita mencoba lagi.

Build → Ship → Observe → Learn → Improve → Repeat.

Saya rasa ini jauh lebih realistis daripada:

Think → Think → Think → Think → Launch.


Lebih baik membangun sesuatu yang kita sendiri butuhkan

Ada satu prinsip lain yang semakin masuk akal bagi saya:

Build something you use yourself.

Ketika kita sendiri menggunakan produk tersebut, kita punya akses langsung terhadap masalahnya.

Kita tahu bagian mana yang menyebalkan.

Kita tahu apa yang kurang.

Kita tahu apa yang terasa penting dan apa yang ternyata tidak.

Kita tidak perlu menebak semuanya dari survei.

Tentu saja ini bukan jaminan bahwa market akan menyukai produk kita.

Tetapi setidaknya kita memulai dari masalah yang benar-benar kita pahami.

Dan itu membuat proses membangun menjadi jauh lebih masuk akal.


Jangan terlalu cepat mencari “ide besar”

Mungkin ini juga salah satu perubahan cara berpikir yang sedang saya coba lakukan.

Saya tidak terlalu tertarik lagi mencari:

“Apa ide bisnis terbesar yang bisa saya bangun?”

Saya lebih tertarik pada:

“Apa sesuatu yang bisa saya bangun, ship, dan pelajari sekarang?”

Karena mungkin ide pertama bukan ide terbaik.

Tidak masalah.

Tujuan eksperimen pertama tidak selalu untuk memenangkan permainan.

Kadang tujuannya hanya untuk mendapatkan informasi yang membuat kita bisa memainkan permainan berikutnya dengan lebih baik.


Profit memberikan ruang untuk bereksperimen

Ada satu bagian lain dari filosofi ini yang menurut saya sering dilupakan.

Kita sering melihat profit hanya sebagai hasil akhir.

Padahal profit juga memberikan sesuatu yang sangat berharga:

slack.

Ruang.

Ruang untuk bernapas.

Ruang untuk mencoba.

Ruang untuk membuat kesalahan.

Ruang untuk mengejar sesuatu yang belum tentu langsung menghasilkan uang.

Perusahaan yang sehat tidak harus selalu hidup dalam mode survival.

Ketika bisnis memiliki fondasi yang cukup sehat, kita punya lebih banyak kebebasan untuk mengambil beberapa taruhan kecil.

Dan menurut saya, ini jauh lebih menarik daripada terus mengejar pertumbuhan hanya demi pertumbuhan.


Kalau tidak ada ketidakpastian, mungkin tidak ada petualangan

Pada akhirnya, membangun bisnis memang selalu mengandung ketidakpastian.

Kita tidak bisa menghilangkannya.

Yang bisa kita lakukan adalah memperkecil risikonya.

Mulai kecil.

Jaga biaya tetap rendah.

Validasi dengan cepat.

Jangan mengambil taruhan yang bisa menghancurkan perusahaan.

Tetapi tetap berani mencoba sesuatu yang belum pasti.

Karena kalau semuanya sudah pasti sejak awal, mungkin sebenarnya itu bukan eksperimen.

Tidak ada kejutan.

Tidak ada pembelajaran.

Tidak ada petualangan.


Jadi, ship.

Mungkin ini pelajaran yang paling saya bawa dari percakapan Jason Fried dan DHH:

Anda tidak akan pernah berpikir sampai benar-benar yakin.

Pada titik tertentu, Anda harus membuat sesuatu menjadi nyata.

Jangan menunggu ide yang sempurna.

Jangan menunggu market yang pasti.

Jangan menunggu roadmap sepuluh tahun.

Jangan menunggu semua orang setuju.

Bangun sesuatu yang masuk akal.

Buat dengan kualitas yang cukup baik.

Kirim.

Dengarkan market.

Perbaiki.

Ulangi.

Karena mungkin ide pertama Anda bukan ide terbaik.

Tidak masalah.

Mungkin justru dengan membuat ide pertama itulah Anda akhirnya menemukan ide yang jauh lebih baik.

Dan mungkin tujuan dari sebuah eksperimen pertama bukan untuk memenangkan permainan.

Tetapi untuk mendapatkan informasi yang membuat Anda bisa memainkan permainan berikutnya dengan lebih baik.

Ship.

Karena ide yang masih ada di kepala belum bisa diuji.

Dan bisnis yang belum pernah bertemu dengan dunia nyata masih hanyalah asumsi.

— Fadhli

Ditulis oleh Fadhli

Founder & digital builder. Tentang saya

Dapatkan edisi berikutnya langsung di inbox.

Baca juga